Rabu, 05 September 2012

Contoh Skripsi


PROPOSAL PENELITIAN

1. Judul Skripsi
kajian pembelajaran unsur intrinsik roman “kemelut hidup” karya ramadhan k. h. dengan menggunakan teknik resitasi pada siswa sman 1 rajagaluh tahun pelajaran 2008-2009.

2. Bidang Ilmu
Dikbasasinda ( Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah )

3. Pendahuluan
Hakikat Sastra pada dasarnya adalah segala apa yang ditulis dalam peradaban atau kebudayaan suatu bangsa. Sastra tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dan bangsa. Sastra selalu merekam kehidupan manusia.
Sastra merangsang hati dan perasaan kita terhadap kemanusiaan, kehidupan dan alam sekitar. Kehidupan merupakan jantung sastra. Sastra menjadikan hati kita memahami dan menghayati kehidupan. Sastra bukan merumuskan dan mengabstrakan kehidupan tetapi menampilkan dan mengkongkritkanya. Interaksi budaya yang terjadi di suatu negeri tidak terlepas kajian sastra.
“Apabila karya sastra dianggap tidak berguna, tidak bermanfaat lagi untuk menafsirkan dan memahami masalah-masalah dunia nyata, maka tentu saja pengajaran sastra tidak ada gunanya lagi diadakan. Namun jika dapat ditunjukan bahwa sastra itu mempunyai relevansi dengan masalah-masalah dunia nyata, maka pengajaran sastra harus dipandang sebagai sesuatu yang penting yang patut menduduki tempat selayaknya” (Rahamanto, 1988:15)
Pengajaran sastra tidak hanya berisikan tentang pengertian sastra, contoh-contoh nama pengarang dan karyanya tetapi yang lebih penting adalah mengenal, memahami dan memanfaatkan karya sastra sebagai sarana penambahan pengalaman, wawasan dan kematangan berfikir.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Rusnyana (1984:313) yang mengatakan: “Pengajaran sastra dalam pendidikan siswa dilibatkan kedalam pengalaman agar mereka mampu mengapreasikan nilai-nilai serta memahami dan mengapresiasi hubungan sebagai makhluk hidup dengan kholiq-Nya”.
Memperhatikan hal di atas, penyusun berpendapat bahwa, tujuan pengajaran sastra yaitu agar siswa dapat melakukan penginderaan dan pengimajinasian. Dengan demikian siswa menjadi temotivasi untuk memahami, menikmati dan menghargai karya sastra sebagai bagian dari dirinya, “Kegiatan menggauli karya sastra secara sungguh-sungguh sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra”. Aminudin, (1991: 35)
Untuk mencapai hal tersebut, siswa perlu dibekali dengan pengetahuan yang memadai sehingga dapat melakukan pengkajian terhadap unsur-unsur dalam karya sastra, baik itu puisi, Cerpen atau Roman.
Terdapat beberapa macam teknik pembelajaran yang dikemukakan oleh Roestiyah (1991: 4) yaitu
1. Teknik Diskusi
2. Teknik kerja kelompok
3. Teknik penemuan ( Discovery )
4. Teknik Simulasi
5. Teknik Teacing
6. Teknik Mikro Teacing
7. Teknik Sumbang Saran / Brain Storning
8. Teknik Inquiry
9. Teknik Eksperimen
10. Teknik Demontrasi
11. Teknik Karya Wisata
12. Teknik Penyajian karya lapangan
13. Teknik Sosio Drama / Bermain Peran / Role Playing
14. Teknik Penyajian Secara Kasus
15. Teknik Penyajian Secara sistem beregu / Team Teacing
16. Teknik Latihan / Drill
17. Teknik Penyajian Dengan Tanya Jawab
18. Teknik Pemberian Tugas dan Resitasi
19. Ceramah
20. Teknik Penyajian dengan interaksi Masa
Salah satu teknik pembelajaran dalam upaya meningkatkan apresiasi pembelajaran sastra khususnya pembelajaran unsur intrinsik cerita pendek, yaitu teknik resitasi.
Teknik resitasi yaitu: teknik pembelajaran dengan cara penugasan dan hapalan yang diucapkan siswa di dalam kelas. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmadi (1997: 134) yang menyatakan.
Tugas itu dapat berubah perintah, kemudian siswa mempelajari bersama temannya atau sendiri, kemudian menyusun laporan / resume. Esok harinya laporan itu dibacakan di depan kelas. Tugas semacam itu disebut resitasi, yaitu menyusun laporan sebagai hasil dari materi yang telah dipelajari.
Penerapan teknik resitasi ini didasarkan pada banyak kegiatan pendidikan di sekolah, apalagi sekarang dituntut kelulusan dari UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional), sehingga pembelajaran lebih ditekankan pada latihan soal-soal, sedangkan pembelajaran prosa yang mendalam sangat sulit diajarkan di sekolah. Untuk mengatasi keadaan tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas diluar jam pelajaran sebagai selingan atau variasi teknik penyajian. Tugas-tugas semacam ini dapat dikerjakan di luar jam pelajaran, di rumah maupun sebelum pulang sehingga dapat dikerjakan bersama-sama secara kelompok.
Menurut penyusun, teknik resitasi dapat diterapkan dalam pembelajaran unsur intrinsik sebuah cerita pendek. Pengkajian intrinsik sebuah cerpen rekaan membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebab proses pengkajian memerlukan pemahaman yang mendalam, pengimajinasian dan kritis terhadap karya sastra.
Hal tersebut sesuai dengan pendapat Ahmadi (1997: 137) yang mengatakan bahwa “Teknik resitasi ini memiliki kebaikan sebagai teknik penyajian siswa mengalami dan mengalami sendiri pengetahuan yang dicarinya, maka pengetahuan itu akan tinggal lama dijiwanya.
Roman pilihan dalam pembelajaran unsur-unsur intrinsik dengan menggunakan teknik resitasi dapat menggunakan Roman yang Berjudul Kemelut hidup Ramadhan K.H. Penyusun memilih cerpen tersebut karena unsur-unsur intrinsik dalam Roman tersebut sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari oleh siswa.
Bertolak dari uraian di atas penyusun tertarik untuk mengadakan penelitian tentang kajian unsur intrinsik cerpen dengan menggunakan teknik resitasi pada siswa kelas XII SMAN Rajagaluh Tahun Pelajaran 2008/2009

4. Perumusan Masalah
Bertolak pada latar belakang di atas penyusun merumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
1) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran unsur intrinsik Roman “Kemelut Hidup“ karya Ramadhan, K.H dengan menggunakan teknis resitasi pada siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh Tahun pelajaran 2008 /2009
2) Bagaimana pelaksanaan pembelajaran unsur intrinsik Roman “Kemelut Hidup” Karya Ramadhan K. H yang tidak menggunakan teknik resitasi pada siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh Tahun Pelajaran 2008/2009
3) Bagaimana efektivitas teknik resitasi bila dibandingkan dengan teknik non resitasi dalam pembelajaran unsur intrinsik Roman Kemelut Hidup karya Ramadhan K. H dengan menggunakan teknis resitasi pada siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh Tahun pelajaran 2008/2009.

5. Pembatasan Masalah
Supaya penelitian ini lebih terarah dalam membahas permasalahan diperlukan adanya perbatasan masalah dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Unsur intrinsik yang dijadikan bahan pembelajaran dibatasi pada tema, amanat dan latar yang terdapat pada Roman Kemelut hidup Ramadhan K. H
2. Keefektifan teknik resitasi dalam pembelajaran Roman Kemelut Hidup karya Ramadhan K.H dilihat protes kelas eksperimen dan kelas kontrol.

6. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan arah, sasaran, maksud, atau hasil yang ingin dicapai dalam penelitian yang dilakukan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Memberikan gambaran yang jelas tentang pelaksanaan dan pembelajaran unsur intrinsik Roman “Kemelut Hidup” Karya Ramadhan K.H. Dengan menggunakan teknis resitasi pada siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh Tahun Pelajaran 2008/2009
2. Mengetahui hasil pelaksanaan pembelajaran unsur intrinsik Roman Kemelut Manusia Ramadhan K.H dengan menggunakan teknis resitasi pada siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh Tahun Pelajaran 2008/2009
3. Mengetahui sejauh mana efektifitas teknik resitasi bila dibandingkan dengan teknik non resitasi dalam pelaksanaan pembelajaran unsur intrinsik Roman “Kemelut Hidup” karya Ramadhan K.H dilihat dari nilai postes kelas eksperimen dan kelas kontrol.

7. Manfaat Penelitian
Manfaat hasil dari penelitian ini di harapkan berguna untuk berbagai pihak, baik secara teoritis maupun secara praktis, diantaranya sebagai berikut:
1. Secara teoritis
Secara teoritis diharapkan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam upanya meningkatkan pembelajaran apresiasi cerita pendek dan memberikan sumbangan pemikiran sebagai perkembangan dunia sastra Indonesia khususnya pada tataran pembelajaran apresiasi sastra.
2. Secara Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat memberikan sumbangan kepada:
a. Siswa
Memperoleh pembelajaran apresiasi cerita pendek dengan baik, serta dapat meningkatkan apresiasi siswa terhadap karya-karya sastra;
b. Guru
Khususnya Guru Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sebagai imformasi pentingnya menerapkan teknik yang relevan dalam proses belajar mengajar dalam upanya meningkatkan prestasi belajar siswa;
c. Lembaga
Dapat memberikan konstribusi kepada sekolah untuk berupaya dalam peningkatan mutu lulusannya dalam dengan jalan melengkapi sarana belajar dan meningkatkan profesionalisme guru dalam mendidik siswa
d. Penyusun
Memberikan pengalaman berfikir ilmiah melalui penyusunan dan penulisan Skripsi, sehingga dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan menambah wawasan dalam bidang pendidikan khususnya bahasa dan sastra Indonesia.

8. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk mencapai tujuan dari penelitian yang dilakukan. Hal itu sejalan dengan pendapat Surakmad (1994: 131) yang mengatakan, “Cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis, dengan mempergunakan teknik serta alat-alat tertentu setelah penyelidikan memperhitungkan kewajaranya ditinjau dari tujuan serta situasi penyelidikan”
Sesuai dengan batasan di atas, maka metode yang tepat digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Resitadi. Ahmad (1997: 13) menjelaskan bahwa, “ Teknik resitasi adalah teknik pemberian tugas pada siswa untuk mengerjakan sesuatu yang berkaitan dengan materi pembelajaran dan siswa dituntut untuk memberikan laporan hasil yang dicapainya”.
Untuk memberikan keleluasaan pada siswa, tugas yang diberikan oleh guru dapat dikerjakan diluar jam pelajaran baik secara perorangan maupun kelompok.
Kelebihan teknik Resitasi, diantaranya:
1) Siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap;
2) Siswa memperoleh pengetahuan, memiliki wawasan pengetahuan serta keterampilan :
3) Siswa aktif belajar dan termotivasi untuk meningkatkan hasil belajarnya :
4) Memupuk inisiatif dan tanggung jawab, dan
5) Memberikan kesadaran pada siswa pentingnya memanfaatkan waktu luang dengan baik.
Agar teknik resitasi ini efektif, guru perlu memperhatikan beberapa hal:
1) Tujuan yang ingin dicapai dengan penerapan teknik resitasi:
2) Tugas yang diberikan pada siswa harus jelas ;
3) Adanya pengawasan guru, dan
4) Penyiapan evaluasi yang tepat.
Langkah-langkah proses belajar mengajar dengan teknik resitasi;
1) Merumuskan tujuan Kasus dari tugas yang diberikan;
2) Mempertimbangkan apakah pemilihan teknik resitasi ini tepat / sesuai dengan tujuan yang dirumuskan;
3) Merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dipahami;
4) Menetapkan bentuk resitasi yang akan dilaksanakan, sehingga siswa pasti mengerjakannya karena bentuknya telah pasti, dan
5) Menyiapkan alat evaluasi;

9. Teknik Penelitian
Data yang dikumpulkan berupa hasil pembelajaran apresiasi Roman Kemelut Hidup “karya Ramadhan k. H. Dengan menggunakan teknik resitasi. Data tersebut diperoleh dengan cara mengujicobakan teknik resitasi pada kelas eksperimen dan teknik non resitasi pada kelas kontrol dalam hal ini teknik ceramah. Kegiatan ujicoba mengajar tersebut diakhiri dengan pelaksanaan tes akhir (postes). Hasil kegiatan tes tersebut berupa nilai tes tersebut berupa nilai tes dari kedua kelas yang menjadi sampel penelitian. Nilai tes tersebut oleh penyusun dijadikan bahan dalam melakukan penganalisaan.

10. Anggapan Dasar
Anggapan dasar adalah merupakan titik tolak yang dijadikan dasar penelitian, terutama dalam suatu pola pemikiran pemecahan masalah, Pendapat tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Surakhmad (1994: 107) bahwa dasar adalah suatu titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik itu. Adapun anggapan dasar yang penyusun kemukakan dalam penelitian ini adalah:
1) Penelitian karya sastra dapat membantu meningkatkan apresiasi seseorang ;
2) Penelitian unsur-unsur karya sastra merupakan cara untuk mengapresiasi karya sastra :
3) Hasil kajian terhadap pembelajaran sastra merupakan sumbangan pemikiran bagi peningkatan prestasi belajar siswa ; dan
4) Penerapan teknik yang dapat merupakan salah satu strategi dalam mencapai tujuan pembelajaran;

11. Hipotesis
Hipotesis berarti pendapat yang kebenarannya masih rendah atau kadar kebenarannya masih belum meyakinkan kebenaran pendapat tersebut perlu diuji atau dibuktikan (Sudjana, 1991 : 37) dan menurut Surakhmad (1994 : 68) yaitu Hipotesis adalah sebuah kesimpulan yang masih harus dibuktikan kebenarannya, pendapat senada dikatakan oleh Ali (1993 : 43) “Yaitu hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah yang dirumuskan atau dasar terkaan yang akan diuji dengan data, Berdasarkan pengertian hipotesis diatas, penyusun merumuskan hipotesis sebagai berikut. Penggunaan teknik resitasi sangat efektif untuk pembelajaran unsur-unsur intrinsik Roman Kemelut Kehidupan karya Ramadhan K. H. Pada siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh.

12. Populasi
Dalam setiap penelitian unsur populasi mutlak dipergunakan, sebab populasi merupakan sumber data yang akan teliti. Menurut Sudjana (1982: 57) “Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung maupun pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif dan karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya”. Dan pengertian tersebut jelas bahwa populasi adalah semua unsur yang akan diteliti dari sekumpulan objek yang lengkap;
Berdasarkan pengertian diatas, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh tahun pelajaran 2008/2009.

13. Sampel
Pengertian sampai menurut Surakhmad (1994: 93) sampai adalah penarikan sebagian dari populasi untuk mewakili seluruh populasi.
Dalam pengertian tersebut maka sampel yang baik adalah sampel yang betul-betul dapat mewakili populasi, pendapat yang sama dikemukakan oleh pakar berikut ini. Sampel adalah sebagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dengan populasinya” (Sudjana 1982: 71)
Penentuan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan sampel random, alasan penggunaan random dibesarkan pada asumsi bahwa siswa kelas XII SMAN 1 Rajagaluh tergolong homogen, disebut homogen karena pendistribusian siswa dilakukan secara merata pada setiap kelas; sehingga secara umum siswa kelas XII memiliki kemampuan yang hampir sama dalam menyerap pembelajaran. Selain itu dilihat dari segi usia dan sistem proses belajar mengajarkan pada masing-masing kelas hampir sama atau relatif tidak jauh berbeda. Sampel random memiliki kelebihan seperti yang dikemukakan oleh Surakmad (1994; 96) Cara yang terbaik untuk mengurangi kesalahan kedua (karena memihak) ini tidak dari pada mempergunakan teknik yang meniadakan kemungkinan memihak itu dengan teknik sampel random.
Dalam menentukan sampel random tersebut, penulis menggunakan sistem undian, Menurut Surakhmad (1994: 96) Sistem undian atau lotre dapat memberikan kesempatan pada setiap unsur untuk dipilih cara mengundi kelas yang berjumlah 3 kelas. Walaupun yang menjadi populasi adalah siswanya bukan kelasnya. Penyusun berasumsi bahwa jumlah siswa dalam setiap kelas tersebut relatif hampir sama sehingga untuk undian tersebut cukup diundi kelasnya saja jumlah sampel dalam penelitian ini sekitar 25 % yaitu satu kelas dari delapan kelas. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Arikunto (1997: 120) yang mengatakan, “untuk ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitan populasi. Selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.........
Adapun langkah-langkah dalam penentuan sampel random dengan cara undian, penyusun uraikan di bawah ini:
1) Setiap kelas diberi nomor, jumlah kelas ada tiga kelas yaitu:
NOMOR UNDIAN POPULASI
KELAS NOMOR
XII IPA 01
XII IPS 02
XII BAHASA 03

2) Nomor
Nomor tesebut ditulis pada secarik kertas, kemudian digulungkan dan dimasukan kedalam gelas.
3) Gelas tesebut kemudian ditutup dengan kertas yang sudah dilubangi sedikit.
4) Penulis mengocok gelas tersebut, agar kelas bercampur
5) Penulis mengeluarkan gulungan kertas untuk memilih dua kelas yang dijadikan sampel penelitian, caranya setelah satu gulungan kertas diketahui kelasnya kemudian dicatat sebagai kelas eksperimen dan gulungan kertas tersebut dimasukan kembali, kemudian mengeluarkan kembali gulungan kertas yang kedua lalu dicatat sebagai kelas kontrol,

14. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesimpangsiuran pemahaman terhadap istilah yang digunakan dalam judul penelitian ini, maka penulis mendefinisikan istilah-istilah tersebut sebagai berikut:
Model, model adalah kerangka pemikiran dan pembelajaran yang terpusat pada hasil belajar tertentu.
Pembelajaran. Pembelajaran adalah suatu usaha untuk membuat siswa belajar, yaitu usaha yang terjadinya perubahan tingkah laku pada dari siswa.
Apresiasi. Apresiasi adalah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan pada pemahaman.
Roman. Roman berarti cerita prosa yang melukiskan pengalaman-pengalaman batin dari beberapa orang yang berhubungan satu yang lain dalam suatu keadaan (Van Leuwen, lewat Jassin 1961: 70)
Unsur yang mendukungnya Kemelut hidup adalah sebuah judul Roman karya Ramadhan. H.
Teknik Resitasi. Teknik resitasi adalah teknik pembelajaran dengan cara penugasan dan hapalan yang diucapkan siswa di dalam kelas.

15. Rencana Penelitian
Penelitian ini direncanakan dapat selesai dalam waktu enam bulan, dengan diawali studi pendahuluan dan diakhiri. Dengan publikasi hasil penelitian, Adapun rincian tersebut, sebagai berikut:

16. Daftar Pustaka Sementara
Ahmad (1997). Strategi Belajar Mengajar. Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi Sastra Malang YAS.
Aminudin (1991 ). Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung; Sinar Baru
Arikunto (1997). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta; Rineka Cipta.
Nurgana (1985). Statistik untuk Penelitian. Bandung, Permadi
Rahmanto (1988). Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta, Kanisius.
Roestilah, (1991). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta; Rineka Cipta.
Rusyana (1984). Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan. Bandung Diponogoro.
Surakhmad. (1994). Metodologi Research Dasar, Metode dan Teknik. Bandung Tarsito.
Sudjana (1991) Metode Statistik. Bandung; Tarsito

Jumat, 24 Februari 2012

ADVERBIA

ADVERBIA
Adverbia disebut juga dengan keterangan kalimat.Menurut kamus besar bahasa Indonesia,adverbial adalah kata yang memberikan keterangan pada verba,adjektiva,nomina predikatif atau kalimat,missal sangat,lebih,tidak.
Jenis-jenis adverbia dari segi bentuknya,terbagi atas advebia tunggal dan adverbia gabungan.Adverbia tunggal dapat diperinci lagi menjadi adverbia yang berupa kata dasar,yang berupa kata berafiks,serta berupa kata yang ulang.Adverbia gabungan dapat pula diperinci menjadi adverbial gabungn yang berdampingan dan yang tidak berdampingan.
A.Adverbia Tunggal.
          Seperti sudah disebutkan di atas,advebia tunggal dapat dibedakan menjadikan dua macam,yaitu adverbia yang berupa kata dasar dan advebia yang berupa kata berafiks.
1.Adverbia yang berupa kata dasar, yakni berupa kata dasar hanya terdiri atas satu kata dasar.contoh baru,hanya,saja,dan lain-lain
2.Adverbia yang berupa kata berafiks,diperoleh dengan menambahkan gabungan afiks se-nya atau afiks –nya pada kata dasar.contohnya
a.sebaiknya kita segera membayarkan pajak itu.
b.Agaknya gurauan itu membuatnya marah.
3.Adverbia yang berupa kata ulang
Dapat diperinci lagi menjadi empat macam,yaitu
-Adverbia yang berupa pengulangan kata dasar:
      I.        Kami duduk diam-diam mendegarkan ceramah
    II.        Lekas-lekas dia berdiri meninggalkan kami
-Averbia yang berupa pengulangan kata dasar dengan penambahan prefix se-:
      I.        Setinggi-tinggi bangau terbang,jatuhnya ke kubangan  juga
ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SINTAKSISNYA
1.Adverbia yang mendahului kata yang diterangkan
Contoh: Ia lebih tinggi dari pada adiknya
2.Adverbia yang mengikuti kata yang diterangkan
Contoh:Tampan nian kekasih barumu
3.Adverbia yang mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan
Contoh:Kini barang-barang elektronika amat mahal harganya.
4.Adverbia ang melalui dan mengikuti kataa yang lain diterangkan
Contoh:saya yakin bukan dia saja yang pandai
ADVERBIA DARI SEGI PERILAKU SIMANTISNYA
Berdasarkan perilaku simantisnya,dapat dibedakan delapan jenis adverbial
1.Adverbia kualitatif adalahadverbia yang menggambarkan makna ang berhubungan dengan tingkat ,derajat,dan mutu.
Contoh:saya paling suka masakan jepang
2.Adverbia kuantitatif
Adverbia kuantitatif menggambarkan makna tang berhubungan dengan jumlah.
Contoh:lukanya banyak mengeluarkan darah
3.Adverbia limitative
Adverbia limitative adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan pematasan .
Contoh:obat itu hanya menghambat pertumbuhan penyakit
4.Adveria frekuentitatif
Adverbia frekuentitatif adalah adverbial yang menggambarkan makna ang berhubungan dengan tingkat kekerapan  terjadiny sesuatu yang diterangkan adverbial itu.
Contoh:kami elalu makan malam bersama-sama
5.Adverbia kewaktuan
Adverbia kewaktuan  adalah adverbia  yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa yang diterangkan oleh adverbia itu.
Contoh: ayah baru diberhentikan dari jabtannya
6.Adverbia kecaraan
Adverbial kecaraan adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan bagaimana peristiw yang diterangkan oleh adverbial itu berlangsung atau terjadi.
Contoh: ikuti dia diam-diam dari belakang. 
7.Adverbia kontrastif
Adverbia kontrastif adalah adverbia yang menggambarkan pertentangan  dengan makna kata atau hal yang dinyatakan sebelumnya.
Contoh: saya tidak pernah kerumahnya, bahkan sampai sekarang alamanya pun saya tidak tahu.
8.Adverbia keniscayaan
Addverbia keniscayaan adalah adverbial yang menggambarkan makna yang berhubungan dengan kepatian tentang keberlangsungan ataau terjadinya hal  atau peristiwa yang dijelaskan adverbia itu.

Minggu, 05 Februari 2012

PRONOMINA dan NOMINALISASI


NOMINA dan PRONOMINA

A.Nomina
Nomina sering juga disebut kata benda.Dari segi sintaksisnya,nomina mempunyai cirri-ciri tertentu.
1.     Dalam kalimat yang predikatnya verba,nomina cendrung menduduki fungsi subjek,objek,atau pelengkap.
2.     Nomina tidak dapat diingkarkan dengan kata .
3.     Nomina umumnya dapat diikuti oleh adjektiva,baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh yang.
Dari segi semantik,kita dapat mengatakan bahwa nomina adalah kata yang mengacu pada manusia,benda,dan konsep,contoh:kursi,pemerintahan,meja.buku dan lain-lain.
Kata kerja apabila diberi –an maka menjadi kata benda,contoh masakan yang berasal dari kata dasar masak.selain itu,kata sifat apabila mendapat imbuhan ke---an maka membntuk kata benda/nomina,contoh keadilan yang berasal dari kata dasar adil.
B.Pronomina
Jika ditinjau dari segi artinya,pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu kepada  nomina lain.Ada tiga macam pronominal dalam bahsa Indonesia,yakni(1)Pronomina persona,(2)Pronomina penunjuk,dan (3)pronomina penanya.





Pronomina persona adalah pronominal yang dipakai untuk mengacu pada orang .Pronomina persona ada yang berbentuk jamak dan tunggal,seperti bagan berikut.


Persona
Makna
Tunggal
jamak
Netral
Ekslusif
inklusif
Pertama
Saya,aku,ku-,-ku



Kedua
Engkau,kamu,Anda,dikau
,kau-,-mu
Kalian,kamu,sekalian,
Anda sekalian


Ketiga
Ia,dia,beliau,-nya



  
            Pronomina penunjuk umum ialah ini,itu,dan anu.contoh:
Jawaban ini
Lamaran itu
Masalah ini








            Pronomina penanya adalah pronomina yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan.Dari segi maknanya,yang ditanyakan itu dapat mengenai (a)orang,(b)barang,atau(c)pilihan.Pronomina siapa dipakai jika yang ditanyakan adalah prang atau nama orang;apa bila barang;dan mana bila sutu pilihan tentang orang atau barang.Selain itu,berikut kata –kata penanya
a.     Siapa
b.     Apa
c.      Mana
d.     Mengapa,kenapa
e.     Kapan,bila(mana)
f.       Di mana,ke mana,dari mana
g.     Bagaimana
h.     Berapa

PRONOMINA DAN NOMINALISASI DALAM BAHASA DAERAH



PRONOMINA DALAM BAHASA MELAYU RIAU BANDAR PETALANGAN KABUPATEN PELALAWAN

No
Kata Orang Pertama Tunggal
Bahasa Indonesia
Bahasa Daerah
1
saya
saya
ambo
2
aku
aku
aku

No
Kata Orang Kedua Tunggal
Bahasa Indonesia
Bahasa Daerah
1
Kamu
Kamu
ingkak
2
Anda
Anda
Kau
3
engkau
engkau
kau

No
Kata Orang ketiga  tunggal
Bahasa Indonesia
Bahasa Daerah
1
Dia
Dia
inyo
2
beliau
beliau
beliau


Proses pembentukan nominalisasi pada Bahasa Melayu Riau dialek Bangkinang dalam dalam proses afiksasi.Nomina dengan prefiks paN-,prefiks ka-,sufiks-an, paN-an, paN-an, sa-an,ka-an.

Contoh nominalisasi dengan prefiks paN-
-paN- +/juluo?/(v) =/panjuluo?/ (N) ‘penjuluk’

Contoh nominalisasi dengan prefiks ka-
-ka + /bonga?/ (aj) = kebongakannyo/ (N) ‘kebodohannyo’

Contoh nominalisasi dengan sufiks –an
-an +bual/ (v) =/bualan/ (N) ‘pembicaraan’

Contoh nominalisasi paN-an,sa-an,ka-an
a. dilekati konfiks paN-an
-paN-an + /bonam/ (v) = /pambonaman/ (N) ‘tempat membenamkan’
b. dilekati sufiks sa-an
-sa-an + /aghi(N) =/saaghian/ (N) ‘satu hari penuh’
c. dilekati konfiks ka-an
-ka-an +/payah/(aj) =/kepayahan/ (N) ‘kesulitan’